Curhat Pramudi TransJ, dari Gaji Hingga Kecelakaan

Jakarta Delapan tahun sudah Asep bekerja sebagai pramudi bus TransJakarta. Selama sewindu bekerja, Asep telah merasakan banyak hal. Soal gaji, THR, hingga kecelakaan yang banyak melibatkan bus TransJ pun dicurhatkannya.

“Masalah THR, dibilang dibayar THR tapi terlambat untuk gaji. Buktinya sekarang belum diberikan gajinya. Tapi tadi direksi semua apel pagi yang dibicarakan sore atau besok (keputusan),” ujar Asep.

Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers di Gedung Prasada Sasana Karya, Jl Suryopranoto No 8, Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (6/9/2012). Acara itu dihadiri pula oleh Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan, Kepala BLU TransJakarta M Akbar, pengamat transportasi Darmaningtyas, dan Sekjen Serikat Pekerja Pramudi Transportasi Busway (SPPTB) Gito Ardi.

Menurut Asep, peraturan yang ada tidak jelas. Ketidakjelasannya itu antara lain soal wajib tidaknya pegawai membayar asuransi yang dipotong dari gajinya. Asep mengeluh gajinya dipotong Rp 230 ribu untuk asuransi, padahal sudah ada Jamsostek.

Lalu Asep menyinggung soal kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus TransJakarta, di mana kerap kali pramudi yang disalahkan. Padahal kecelakaan kerap terjadi saat ada orang menyeberang sembarangan atau kendaraan yang menyerobot jalur bus TransJ.

“Banyak kendaraan kecil masuk jalur. Maksud saya kan sudah 9 tahun, kan sudah kebaca ya, nah itu di pintu masuk saja ada keterlambatan pelayanan,” keluhnya.

Asep juga mengeluhkan besaran gajinya yang sama dengan pegawai baru, yakni sekitar Rp 1.590.000 dan uang makan Rp 50 ribu per hari. Nah, jika pegawai tidak masuk, maka uang makan dipotong dari gaji pokok.

“Kalau Damri gajinya Rp 4,8 juta. Mungkin dengan saya muncul di sini saya akan dipanggil,” kata Asep menahan kesal.

Sementara itu Kepala Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta, M Akbar, menjelaskan keikutsertaan pegawai di asuransi tidaklah wajib. Sedangkan soal kecelakaan, menurut Akbar hal itu sangat dilematis.

“Kalau masalah laka, memang dilematis ya. Kalau laka dibebaskan dari pramudi, kami khawatir pramudi ugal-ugalan. Kami memang tidak mengatur dalam kontrak, mungkin nanti akan mengatur dalam asuransi, tapi tentunya pada kontrak yang berikutnya,” papar Akbar.

Soal gaji pramudi bus TransJ yang dari Damri, menurut Akbar pengemudi baru untuk melayani Koridor XI diatur Rp 4,8 juta. Sedangkan untuk pramudi koridor lama tidak diatur.

“Yang diatur nominal. Pendapatan mereka Rp 2,5-3 juta tidak layak. Paling tidak Rp 5 jutalah. Rp 5 juta kira-kira 3,5 kali UMP. Inilah yang kami terapkan dengan kontrak baru dan operator baru yang diatur sejak 2011,” sambung Akbar.

Dia pun meminta maaf kepada pramudi lama karena tidak bisa mengubah kontrak seenaknya. Namun kesejahteraan semua pramudi masih diusahakan.

“Kami minta persetujuan untuk hasil ini disetujui untuk kontrak lama. Mudah-mudahan disetujui oleh Pemprov DKI. Kami sangat concern-lah,” ucap Akbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: